Selasa, 16 Februari 2021

Kamis, 22 Maret 2018

Penelitian Tindakan Kelas


BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar belakang masalah
Kegiatan belajar mengajar sebagai salah satu masalah rutin yang umumnya dilaksanakan guru di kelas, bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri akan tetapi terkait dengan berbagai faktor dan unsur. Oleh karena itu eksistensi seorang guru tidak hanya diukur dari penguasaan materi pelajaran atau menyiapkan perangkat-perangkat media yang diperlukan,  akan tetapi juga diperlukan kemampuan menciptakan kondisi belajar yang kondusif.
Selama ini perhatian sangat besar ditujukan pada upaya memberikan materi sebanyak-banyaknya kepada siswa, sangat jarang diperhatikan perbedaan- perbedaan individu dan suasana kelas yang sesungguhnya sangat mempengaruhi proses belajar mengajar.
Berdasar pengamatan di lapangan, proses pembelajaran di sekolah dewasa ini kurang meningkatkan motivasi dan aktivitas siswa. Masih banyak tenaga pendidik yang menggunakan tipe konvensional secara monoton dalam kegiatan pembelajaran di kelas, sehingga suasana belajar terkesan kaku dan didominasi oleh guru. Dalam penyampaian materi biasanya guru menggunakan tipe ceramah dimana siswa hanya duduk, mencatat dan mendengarkan apa yang disampaikan guru dan sedikit peluang bagi siswa untuk bertanya. Dengan demikian suasana pembelajaran menjadi tidak kondusif sehingga siswa menjadi pasif.
Proses pembelajaran dalam kurikulum 2013 menuntut adanya partisifasi aktif dari seluruh siswa. Jadi kegiatan belajar berpusat pada siswa, guru sebagai motivator dan fasilitator didalamnya agar suasana kelas lebih hidup.
Belajar kooperatif merupakan salah atu upaya untuk mewujudkan pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Belajar kooperatif memberikan kesempatan pada siswa untuk saling berinteraksi. Siswa yang saling menjelaskan pengertian suatu konsep pada temannya sebenarnya sedang mengalami proses belajar yang sangat efektif yang bisa memberikan hasil belajar yang jauh lebih maksimal daripada kalau dia mendengarkan penjelasan guru.
Rendahnya hasil belajar pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam  yang diperoleh siswa kelas   SMP  Negeri 1 Sukatani, juga diakibatkan dari cara belajar siswa yang masih salah. Selama ini siswa belajarnya dengan cara menghafal (rote learning) bukan dimengerti atau dipahami sehingga tidak menghasilkan pembelajaran yang bermakna (meaningful learning). Hal  tersebut  berakibat  pada  pencapaian  hasil  belajar  yang  tidak   optimal. Berdasarkan   hasil  belajar  nilai  harian pada Mata  Pelajaran  Pendidikan Agama Islam  kelas VIII A SMP  Negeri 1 Sukatani,  sebanyak 39  orang  siswa  di  SMPN 1 Sukatani Tahun  Pelajaran  2016/2017  semester Genap sangat rendah, yaitu berkisar antara 60% sampai dengan 70% di bawah KKM (Kriteris Ketuntasan Minimal) yang sudah ditetapkan. Berarti hanya sekitar 30% sampai dengan 40% yang sudah tuntas. Belajar dikatakan tuntas bila siswa telah mencapai prestasi belajar atau nilai sama atau diatas KKM yaitu 75. Dengan demikian hasil belajar Pendidikan Agama Islam    Kelas VIII A SMP  Negeri 1 Sukatani masih dianggap rendah.
Solusi  untuk  menanggulangi  permasalahan  tersebut, ada faktor  yang  seharusnya  dipenuhi  dan diperhatikan  guru  di antaranya  yaitu  :  metode  belajar  mengajar,  program  tugas,  motivasi  siswa,  cara  belajar  siswa,  sikap  siswa,  keaktifan  siswa  dalam  belajar  dan  tingkat  penguasaan  materi.  Djadjadisastra  dalam  Ningsih  ( 2008 : 3 )  mengemukakan  bahwa  guru  sebagai  fasilitator  dan  motivator  hendaknya  harus  mengetahui  metode  pembelajaran  yang  digunakan  untuk  membangkitkan  minat  siswa,  memperkuat  ingatan,  mengurangi  proses  lupa,  mengembangkan  cara  berpikir  logis  dan  sistematis,  merangsang  untuk  berpikir,  dapat  mengembalikan  suasana  yang  lesu  menjadi  bergairah  kembali,  siswa  berkesempatan  untuk  berpartisipasi  dalam  proses  pembelajaran,  guru  dapat  mengetahui  tingkat  kemampuan  belajar  siswa,  guru  dapat  menilai  hasil  proses  pembelajaran  sehingga  berdampak  positif  pada  pencapaian  hasil  belajar  yang  optimal,  semua  itu  akan  didapat  apabila  siswa  terlibat  secara  langsung  dalam  pembelajaran.  Hal  ini  merupakan  karakteristik  dari  pembelajaran  dengan  metode  tanya  jawab.
Berdasarkan  uraian  di atas  penulis  bermaksud  melakukan  suatu   penelitian  dengan  mengangkat  judul  :    Meningkatkan  Motivasi dan Hasil Belajar  Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam   Melalui  Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Siswa  Kelas  VIII A SMP  Negeri 1 Sukatani  Tahun  Pelajaran  2016/2017  .  
  
B.  Identifikasi Maslah
Dari latar belakang di atas, teridentifikasi beberapa daftar masalah yang harus segera dilakukan tindakan perbaikan, yaitu:
1.         Kurangnya Motivasi siswa dalam proses belajar mengajar di kelas.
2.         Rendahnya hasil belajar siswa pada pelajaran Pendidikan Agama Islam  
3.         Kurangnya keberanian siswa dalam mengemukakan pendapat
4.         Kurangnya keberanian siswa untuk bertanya

C. Perumusan Masalah.
   Berdasarkan deskripsi di atas, maka masalah dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: “ Apakah proses pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa pada mata pelajara Pendidikan Agama Islam  di kelas VIII A SMP  Negeri 1 Sukatani?”.  Secara  khusus  masalah  penelitian  dapat  dijabarkan dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut:
1.      Apakah  Proses pembelajaran koperatif  tipe jigsaw dapat meningkatkan motivasi belajar siswa kelas VIII A pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam  ?
2.      Apakah proses pembelajaran koperatif tipe jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VIII A pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam  ?




D.  Tujuan Penelitian
Dari permasalahan diatas, maka tujuan penelitian ini adalah :
1.    Untuk mengetahui  proses pembelajaran koperatif  tipe jigsaw dapat meningkatkan motivasi belajar siswa kelas VIII A pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam  ?
2.    Untuk mengetahui proses pembelajaran koperatif tipe jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VIII A pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam  
E.  Manfaat Hasil Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian tindakan ini adalah sebagai berikut 
1.         Bagi guru, kegiatan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dapat menciptakan situasi belajar mengajar yang efektif dan efesien (suasana belajar yang kondusif), mengetahui strategi pembelajaran yang bervariasi dan inovatif serta meningkatkan pemahaman guru dalam melakukan tindakan kelas. Sebagaiupaya untuk mengatasi pembelajaran yang konvensional, dan pada akhirnya dapat meningkatkan mutu proses belajar mengajar di kelas.
2.         Bagi siswa, kegiatan pembelajaran dengan tipe jigsaw dapat meningkatkan motivasi belajar, dan meningkatkan kegairahan belajar, karena bisa menarik perhatian siswa dengan anggota kelompoknya yang akan menimbulkan  suasana belajar partisipatif dan menjadi lebih hidup, maka hasil belajarnya pun meningkat.
3.         Bagi sekolah penelitian ini dapat membantu memperbaiki proses pembelajaran, khususnya mata pelajaran Pendidikan Agama Islam  , sehingga sekolah bisa memfasilitasi segala keperluan untuk kelancaran proses pembelajaran tersebut.

Rabu, 12 September 2012

Perawatan Berkala

Perawatan Berkala Pada Kendaraan:
a. Engine
b. Chasis dan sistem Rem
c. Kelistrikan
d. Sistem Pendingin
e. Sistem AC
f. Sistem Pengapian
g. Sistem Starter
h. Pemindah Tenaga
i. Kopling dan Transmisi

Jumat, 31 Agustus 2012

SUDAHKAH KITA MENCINTAI MUHAMMAD SAW


SUDAHKAH KITA MENCINTAI NABI
عن أنس – رضي الله عنه – أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال :« لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من ولده ووالده والناس أجمعين » أخرجه البخاري[32] ومسلم[33]
Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:”Tidak beriman salah seorang di antara kalian, hingga menjadikan aku lebih dicintai melebihi kecintaannya kepada anaknya, bapaknya dan seluruh manusia."(HR.al-Bukhari dan Muslim)

Minggu, 13 Maret 2011

Apa itu RPP?


A. Apakah RPP itu?

Berdasarkan PP 19 Tahun 2005 Pasal 20 dinyatakan bahwa: ”Perencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran yang memuat sekurang-kurangnya tujuan pembelajaran, materi ajar, metode pengajaran, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar”. Sesuai dengan Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses dijelaskan bahwa RPP dijabarkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan belajar peserta didik dalam upaya mencapai KD. Setiap guru pada satuan pendidikan berkewajiban menyusun RPP secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.

Kamis, 10 Maret 2011

SK mempergunakan Mesin Bubut

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)

Nama Sekolah                        : SMK YPB PURWAKARTA
Mata Pelajaran                        : Teknik Pemesinan
Kelas/Semester                      : XI/3
Pertemuan Ke                         : 1 – 5
Alokasi Waktu                         : 8 JP X 45 Menit
Standar Kompetensi               : Mempergunakan Mesin Bubut
Kompetensi Dasar                  : Menentukkan Persyaratan Kerja
Indikator                                  : Memahami gambar teknik, urutan operasi ditentukkan dan
                                                  memilih perkakas untuk menghasilkan komponen sesaui
                                                  spesifikasi

Sabtu, 23 Oktober 2010

SISTEM DIAGNOSIS

DESKRIPSI
Sistem diagnosa ini berada di dalam ECU. Jika tejadi ketidaknormalan pada sinyal dari berbagai macam sensor, system diagnosa akan menyimpan kode kerusakaan, check engine lamp di dalam panel instrument akan menyala, dan memberitahu ke pengemudi akan kerusakan tersebut. Jika kerusakan tersebut telah diperbaiki, check engine lamp akan padam.
Jika test terminal dihubungkan dengan earth terminal, untuk mengetahui kode kerusakan yang telah disimpan di ECU akan ditandai dengan berkedipnya check engine lamp pada panel instrument.

Jumat, 19 Maret 2010

Panitia UN/UJK 2010 SMK YPB


Lampiran         : Surat Keputusan Panitia Penyelenggara UN Tingkat Kabupaten Purwakarta
Nomor             :
Tanggal           :
Perihal             : Penetapan Panitia Penyelenggara Ujian Nasional dan Ujian Sekolah
                          Tingkat Sekolah Tahun 2009/2010

Jumat, 12 Maret 2010

Eretan atas dan Tool Post Mesin Bubut

Untuk merawat dan memperbaikinya harus selalu di laksanakan, karena hal ini sering terjadi kerusakan terutama pada bagian mur penggerak maju mundur eretan atas. Mur ini kebanyakan terbuat dari bahan kuningan (bruss) dengan ulir segi empat.
Karena banyak menerima beban pemakanan juga getaran maka kerusakan sering terjadi pada mur penggeraknya.

Selasa, 09 Maret 2010

Metode Pengangkatan, Pemasangan Sling dan Hook, Penanganan Zat-zat Kimia dan Bahan Berbahaya


a. Tujuan Kegiatan Pembelajaran
1.    Mamahami cara-cara pemindahan material sesuai dengan metode penyimpanan, berat, tinggi dan posisinya.
2.    Dapat menggunakan teknik yang paling memadai sesuai dengan berat material.
3.    Dapat memeriksa material yang diangkat dari bahaya yang dapat timbul.

b. Uraian Materi
Metode Mengangkat Mesin

Tiga metode yang biasa digunakan mengangkat mesin :

1.    Block and Tackle – ini memerlukan metode pemindahan tambahan. Sebuah troli yang berjalan diatas adalah perlu untuk membawa mesin ke bangku kerja.

2.    Operasi secara manual, alat angkut hidrolik bergerak – ini memberikan kemudahan mengangkat mesin dari truk dan dapat dengan mudah disetir ke bangku kerja.

3.    Forklift troley or truck – digunakan ketika mesin ditempatkan palet kayu. Mesin harus diletakkan pada palet sehingga mesin tidak bergerak ketika diangkat.

Untuk memperbaiki kata kerja pada kompetensi dasar, hasil belajar, dan indikator hasil belajar dapat digunakan contoh-contoh kata kerja pada tabel di bawah ini. Kedalaman dan keluasan materi dapat digunakan untuk gradasi dan kesinambungan kompetensi


Untuk memperbaiki kata kerja pada kompetensi dasar, hasil belajar, dan indikator hasil belajar dapat digunakan contoh-contoh kata kerja pada tabel di bawah ini. Kedalaman dan keluasan materi dapat digunakan untuk gradasi dan kesinambungan kompetensi

Minggu, 28 Februari 2010

Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)



Selalu ada risiko kegagalan (risk of failures) pada setiap proses/aktivitas pekerjaan. Dan saat kecelakaan kerja (work accident) terjadi, seberapa pun kecilnya akan mengakibatkan efek kerugian (loss). Karena itu sedapat mungkin dan sedini mungkin, kecelakaan/potensi kecelakaan kerja harus dicegah/dihilangkan, atau setidak-tidaknya dikurangi dampaknya. Penanganan masalah keselamatan kerja di dalam sebuah perusahaan harus dilakukan secara serius oleh seluruh komponen pelaku usaha, tidak bisa secara parsial dan diperlakukan sebagai bahasan-bahasan marginal dalam perusahaan.
Adapun tujuan penanganan K3 adalah agar pekerja dapat nyaman, sehat dan selamat selama bekerja.
Secara umum penyebab kecelakaan di tempat kerja adalah sebagai berikut.
1. Kelelahan (fatigue).
2. Kondisi tempat kerja (enviromental aspects) dan pekerjaan yang tidak aman (unsafe
    working condition).
3. Kurangnya penguasaan pekerja terhadap pekerjaan, ditengarai penyebab awalnya
   (pre-cause) adalah kurangnya training.
4. Karakteristik pekerjaan itu sendiri.
5. Hubungan antara karakteristik pekerjaan dan kecelakaan kerja menjadi focus bahasan yang cukup menarik dan membutuhkan perhatian tersendiri. Kecepatan kerja (paced work), pekerjaan yang dilakukan secara berulang (short-cycle repetitive work), pekerjaan-pekerjaan yang harus diawali dengan ”pemanasan prosedural”, beban kerja (workload), dan lamanya sebuah pekerjaan dilakukan (workhours) adalah beberapa karakteristik pekerjaan yang dimaksud. Penyebab-penyebab di atas bisa terjadi secara tunggal, simultan, maupun dalam sebuah rangkain sebab-akibat (cause consequences chain). Jika kecelakaan terjadi maka akan sangat mempengauhi produktivitas kerja.