https://www.facebook.com/100001123998002/videos/1924371484276966
Selasa, 16 Februari 2021
Selasa, 18 Februari 2020
Minggu, 16 Februari 2020
Kamis, 22 Maret 2018
Penelitian Tindakan Kelas
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang masalah
Kegiatan belajar
mengajar sebagai salah satu masalah rutin yang umumnya dilaksanakan guru di
kelas, bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri akan tetapi terkait dengan
berbagai faktor dan unsur. Oleh karena itu eksistensi seorang guru tidak hanya
diukur dari penguasaan materi pelajaran atau menyiapkan perangkat-perangkat media
yang diperlukan, akan tetapi juga diperlukan
kemampuan menciptakan kondisi belajar yang kondusif.
Selama
ini perhatian sangat besar ditujukan pada upaya memberikan materi sebanyak-banyaknya kepada siswa, sangat jarang diperhatikan perbedaan- perbedaan individu dan suasana kelas yang
sesungguhnya sangat mempengaruhi proses belajar mengajar.
Berdasar
pengamatan di lapangan, proses pembelajaran di sekolah dewasa ini kurang meningkatkan motivasi dan aktivitas siswa. Masih banyak tenaga pendidik yang menggunakan tipe
konvensional secara monoton dalam kegiatan pembelajaran di kelas, sehingga
suasana belajar terkesan kaku dan didominasi
oleh
guru. Dalam penyampaian materi biasanya guru menggunakan tipe ceramah dimana siswa hanya duduk, mencatat
dan mendengarkan apa yang disampaikan
guru
dan sedikit peluang bagi siswa untuk bertanya. Dengan demikian
suasana pembelajaran menjadi tidak kondusif sehingga siswa menjadi pasif.
Proses
pembelajaran dalam kurikulum 2013
menuntut
adanya partisifasi aktif dari seluruh siswa. Jadi kegiatan belajar berpusat pada siswa, guru sebagai motivator
dan fasilitator didalamnya agar suasana kelas lebih
hidup.
Belajar kooperatif merupakan salah atu upaya untuk mewujudkan
pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Belajar kooperatif
memberikan kesempatan pada siswa untuk saling berinteraksi. Siswa yang saling
menjelaskan pengertian suatu konsep pada temannya sebenarnya sedang
mengalami proses belajar yang sangat efektif yang bisa memberikan
hasil belajar yang jauh lebih maksimal daripada kalau dia mendengarkan
penjelasan guru.
Rendahnya hasil belajar
pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang diperoleh siswa kelas SMP Negeri 1 Sukatani, juga diakibatkan
dari cara belajar siswa yang masih salah. Selama ini siswa belajarnya
dengan cara menghafal (rote learning) bukan dimengerti atau dipahami
sehingga tidak menghasilkan pembelajaran yang bermakna (meaningful learning). Hal tersebut berakibat
pada pencapaian hasil
belajar yang tidak
optimal. Berdasarkan hasil belajar
nilai harian pada Mata Pelajaran
Pendidikan Agama Islam kelas
VIII
A SMP Negeri 1 Sukatani, sebanyak
39 orang siswa
di SMPN
1 Sukatani Tahun Pelajaran
2016/2017 semester Genap
sangat rendah, yaitu berkisar antara 60% sampai dengan 70% di bawah KKM (Kriteris Ketuntasan Minimal) yang
sudah ditetapkan. Berarti hanya sekitar 30% sampai dengan 40% yang sudah
tuntas. Belajar dikatakan tuntas bila siswa telah mencapai prestasi belajar atau
nilai sama atau diatas KKM
yaitu 75. Dengan demikian hasil belajar Pendidikan
Agama Islam Kelas
VIII
A SMP Negeri 1 Sukatani masih dianggap rendah.
Solusi untuk menanggulangi
permasalahan tersebut,
ada faktor yang seharusnya dipenuhi dan diperhatikan
guru di
antaranya
yaitu : metode
belajar mengajar, program
tugas, motivasi siswa,
cara belajar siswa,
sikap siswa, keaktifan
siswa dalam belajar
dan tingkat penguasaan
materi. Djadjadisastra dalam
Ningsih ( 2008 : 3 ) mengemukakan
bahwa guru sebagai
fasilitator dan motivator
hendaknya harus mengetahui
metode pembelajaran yang
digunakan untuk membangkitkan
minat siswa, memperkuat
ingatan, mengurangi proses
lupa, mengembangkan cara
berpikir logis dan
sistematis, merangsang untuk
berpikir, dapat mengembalikan
suasana yang lesu
menjadi bergairah kembali,
siswa berkesempatan untuk
berpartisipasi dalam proses
pembelajaran, guru dapat
mengetahui tingkat kemampuan
belajar siswa, guru
dapat menilai hasil
proses pembelajaran sehingga
berdampak positif pada
pencapaian hasil belajar
yang optimal, semua
itu akan didapat
apabila siswa terlibat secara
langsung dalam pembelajaran.
Hal ini merupakan
karakteristik dari pembelajaran
dengan metode tanya
jawab.
Berdasarkan uraian di atas penulis bermaksud
melakukan suatu penelitian
dengan mengangkat judul
: ” Meningkatkan
Motivasi dan Hasil Belajar Pada Mata
Pelajaran Pendidikan Agama Islam Melalui Pembelajaran
Kooperatif Tipe Jigsaw Siswa Kelas VIII A SMP Negeri 1 Sukatani Tahun Pelajaran
2016/2017” .
B. Identifikasi Maslah
Dari latar belakang di atas, teridentifikasi
beberapa daftar masalah yang harus segera dilakukan tindakan perbaikan, yaitu:
1.
Kurangnya Motivasi siswa dalam proses belajar mengajar di kelas.
2.
Rendahnya hasil belajar
siswa pada pelajaran Pendidikan Agama Islam
3.
Kurangnya keberanian
siswa dalam mengemukakan pendapat
4.
Kurangnya keberanian
siswa untuk bertanya
C.
Perumusan Masalah.
Berdasarkan deskripsi
di atas, maka masalah dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: “ Apakah
proses pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dapat meningkatkan motivasi
dan hasil belajar siswa pada mata pelajara Pendidikan
Agama Islam di kelas VIII
A SMP Negeri 1 Sukatani?”. Secara khusus
masalah penelitian dapat
dijabarkan dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut:
1.
Apakah Proses
pembelajaran koperatif tipe jigsaw dapat
meningkatkan motivasi belajar siswa kelas VIII A pada mata pelajaran Pendidikan
Agama Islam ?
2.
Apakah proses pembelajaran koperatif tipe jigsaw dapat
meningkatkan hasil belajar siswa kelas VIII A pada mata pelajaran Pendidikan
Agama Islam ?
D. Tujuan Penelitian
Dari permasalahan
diatas, maka tujuan penelitian ini adalah :
1. Untuk
mengetahui proses pembelajaran koperatif tipe jigsaw dapat meningkatkan motivasi
belajar siswa kelas VIII A pada mata pelajaran Pendidikan
Agama Islam ?
2. Untuk
mengetahui proses
pembelajaran koperatif tipe jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas
VIII
A pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam
E. Manfaat Hasil Penelitian
Adapun manfaat dari
penelitian tindakan ini adalah sebagai berikut
1.
Bagi guru, kegiatan pembelajaran kooperatif tipe
jigsaw dapat menciptakan situasi belajar mengajar yang efektif dan efesien
(suasana belajar yang kondusif), mengetahui strategi pembelajaran yang
bervariasi dan inovatif serta meningkatkan pemahaman guru dalam melakukan
tindakan kelas. Sebagaiupaya untuk mengatasi pembelajaran yang
konvensional, dan pada akhirnya dapat
meningkatkan mutu proses belajar mengajar di kelas.
2.
Bagi siswa, kegiatan pembelajaran dengan tipe
jigsaw dapat meningkatkan motivasi belajar, dan meningkatkan kegairahan
belajar, karena bisa menarik perhatian siswa dengan anggota kelompoknya yang
akan menimbulkan suasana belajar
partisipatif dan menjadi lebih hidup, maka hasil belajarnya pun meningkat.
3.
Bagi sekolah, penelitian ini dapat membantu memperbaiki proses
pembelajaran, khususnya mata pelajaran Pendidikan
Agama Islam , sehingga sekolah bisa memfasilitasi segala keperluan
untuk kelancaran proses pembelajaran tersebut.
Selasa, 09 Oktober 2012
Senin, 24 September 2012
Rabu, 12 September 2012
Perawatan Berkala
Perawatan Berkala Pada Kendaraan:
a. Engine
b. Chasis dan sistem Rem
c. Kelistrikan
d. Sistem Pendingin
e. Sistem AC
f. Sistem Pengapian
g. Sistem Starter
h. Pemindah Tenaga
i. Kopling dan Transmisi
a. Engine
b. Chasis dan sistem Rem
c. Kelistrikan
d. Sistem Pendingin
e. Sistem AC
f. Sistem Pengapian
g. Sistem Starter
h. Pemindah Tenaga
i. Kopling dan Transmisi
Jumat, 31 Agustus 2012
SUDAHKAH KITA MENCINTAI MUHAMMAD SAW
SUDAHKAH KITA MENCINTAI NABI
عن أنس – رضي الله عنه – أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال :« لا
يؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من ولده ووالده والناس أجمعين » أخرجه البخاري[32]
ومسلم[33]
Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam bersabda:”Tidak beriman salah seorang di antara kalian, hingga
menjadikan aku lebih dicintai melebihi kecintaannya kepada anaknya, bapaknya
dan seluruh manusia."(HR.al-Bukhari dan Muslim) Minggu, 13 Maret 2011
Apa itu RPP?
A. Apakah RPP itu?
Berdasarkan PP 19 Tahun 2005 Pasal 20 dinyatakan bahwa: ”Perencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran yang memuat sekurang-kurangnya tujuan pembelajaran, materi ajar, metode pengajaran, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar”. Sesuai dengan Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses dijelaskan bahwa RPP dijabarkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan belajar peserta didik dalam upaya mencapai KD. Setiap guru pada satuan pendidikan berkewajiban menyusun RPP secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.
Kamis, 10 Maret 2011
SK mempergunakan Mesin Bubut
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)
Nama Sekolah : SMK YPB PURWAKARTA
Mata Pelajaran : Teknik Pemesinan
Kelas/Semester : XI/3
Pertemuan Ke : 1 – 5
Alokasi Waktu : 8 JP X 45 Menit
Standar Kompetensi : Mempergunakan Mesin Bubut
Kompetensi Dasar : Menentukkan Persyaratan Kerja
Indikator : Memahami gambar teknik, urutan operasi ditentukkan dan
memilih perkakas untuk menghasilkan komponen sesaui
spesifikasi
Sabtu, 23 Oktober 2010
SISTEM DIAGNOSIS
DESKRIPSI
Sistem diagnosa ini berada di dalam ECU. Jika tejadi ketidaknormalan pada sinyal dari berbagai macam sensor, system diagnosa akan menyimpan kode kerusakaan, check engine lamp di dalam panel instrument akan menyala, dan memberitahu ke pengemudi akan kerusakan tersebut. Jika kerusakan tersebut telah diperbaiki, check engine lamp akan padam.
Jika test terminal dihubungkan dengan earth terminal, untuk mengetahui kode kerusakan yang telah disimpan di ECU akan ditandai dengan berkedipnya check engine lamp pada panel instrument.
Sistem diagnosa ini berada di dalam ECU. Jika tejadi ketidaknormalan pada sinyal dari berbagai macam sensor, system diagnosa akan menyimpan kode kerusakaan, check engine lamp di dalam panel instrument akan menyala, dan memberitahu ke pengemudi akan kerusakan tersebut. Jika kerusakan tersebut telah diperbaiki, check engine lamp akan padam.
Jika test terminal dihubungkan dengan earth terminal, untuk mengetahui kode kerusakan yang telah disimpan di ECU akan ditandai dengan berkedipnya check engine lamp pada panel instrument.
Jumat, 19 Maret 2010
Panitia UN/UJK 2010 SMK YPB
Lampiran : Surat Keputusan Panitia Penyelenggara UN Tingkat Kabupaten Purwakarta
Nomor :
Tanggal :
Perihal : Penetapan Panitia Penyelenggara Ujian Nasional dan Ujian Sekolah
Tingkat Sekolah Tahun 2009/2010
Jumat, 12 Maret 2010
Eretan atas dan Tool Post Mesin Bubut
Untuk merawat dan memperbaikinya harus selalu di laksanakan, karena hal ini sering terjadi kerusakan terutama pada bagian mur penggerak maju mundur eretan atas. Mur ini kebanyakan terbuat dari bahan kuningan (bruss) dengan ulir segi empat.
Karena banyak menerima beban pemakanan juga getaran maka kerusakan sering terjadi pada mur penggeraknya.
Karena banyak menerima beban pemakanan juga getaran maka kerusakan sering terjadi pada mur penggeraknya.
Selasa, 09 Maret 2010
Metode Pengangkatan, Pemasangan Sling dan Hook, Penanganan Zat-zat Kimia dan Bahan Berbahaya
a. Tujuan Kegiatan Pembelajaran
1. Mamahami cara-cara pemindahan material sesuai dengan metode penyimpanan, berat, tinggi dan posisinya.
2. Dapat menggunakan teknik yang paling memadai sesuai dengan berat material.
3. Dapat memeriksa material yang diangkat dari bahaya yang dapat timbul.
b. Uraian Materi
Metode Mengangkat Mesin
Tiga metode yang biasa digunakan mengangkat mesin :
1. Block and Tackle – ini memerlukan metode pemindahan tambahan. Sebuah troli yang berjalan diatas adalah perlu untuk membawa mesin ke bangku kerja.
2. Operasi secara manual, alat angkut hidrolik bergerak – ini memberikan kemudahan mengangkat mesin dari truk dan dapat dengan mudah disetir ke bangku kerja.
3. Forklift troley or truck – digunakan ketika mesin ditempatkan palet kayu. Mesin harus diletakkan pada palet sehingga mesin tidak bergerak ketika diangkat.
Untuk memperbaiki kata kerja pada kompetensi dasar, hasil belajar, dan indikator hasil belajar dapat digunakan contoh-contoh kata kerja pada tabel di bawah ini. Kedalaman dan keluasan materi dapat digunakan untuk gradasi dan kesinambungan kompetensi
Untuk memperbaiki kata kerja pada kompetensi dasar, hasil belajar, dan indikator hasil belajar dapat digunakan contoh-contoh kata kerja pada tabel di bawah ini. Kedalaman dan keluasan materi dapat digunakan untuk gradasi dan kesinambungan kompetensi
Minggu, 28 Februari 2010
Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)
Adapun tujuan penanganan K3 adalah agar pekerja dapat nyaman, sehat dan selamat selama bekerja.
Secara umum penyebab kecelakaan di tempat kerja adalah sebagai berikut.
1. Kelelahan (fatigue).
2. Kondisi tempat kerja (enviromental aspects) dan pekerjaan yang tidak aman (unsafe
working condition).
3. Kurangnya penguasaan pekerja terhadap pekerjaan, ditengarai penyebab awalnya
(pre-cause) adalah kurangnya training.
4. Karakteristik pekerjaan itu sendiri.
5. Hubungan antara karakteristik pekerjaan dan kecelakaan kerja menjadi focus bahasan yang cukup menarik dan membutuhkan perhatian tersendiri. Kecepatan kerja (paced work), pekerjaan yang dilakukan secara berulang (short-cycle repetitive work), pekerjaan-pekerjaan yang harus diawali dengan ”pemanasan prosedural”, beban kerja (workload), dan lamanya sebuah pekerjaan dilakukan (workhours) adalah beberapa karakteristik pekerjaan yang dimaksud. Penyebab-penyebab di atas bisa terjadi secara tunggal, simultan, maupun dalam sebuah rangkain sebab-akibat (cause consequences chain). Jika kecelakaan terjadi maka akan sangat mempengauhi produktivitas kerja.
Langganan:
Postingan (Atom)









